Selasa, 06 Okt 2026
Dari Balik Jeruji ke Pasar Kreatif, Ikhtiar Ekonomi Lapas Sidoarjo Lewat Galeri GIATJAMengendus 'Las Vegas' Kalicabean, Mengapa Judi Sabung Ayam di Sidoarjo Tak Kunjung Padam???GIATJA Lapas Sidoarjo Kenalkan Produk Warga Binaan, Dari Sambal Klothok hingga Telur Ayam KampungHUT ke-81 TNI Jadi Momen Kekompakan Muspikacam Puger: Menuju Puger Aman dan KondusifDion Marcellino Lumban Gaol: Mahasiswa Untag Surabaya dan Atlet Wushu Berprestasi di Kancah InternasionalSoewanto.SH : Ekspansi Masif BPJS Ketenagakerjaan: Bidik 20 Profesi Strategis Lewat Strategi KomunitasPolri Perkenalkan Tagline Baru “Polisi Bersama Masyarakat”, Tegaskan Arah Pengabdian yang Berorientasi pada RakyatPolres Ngawi Percepat Pembentukan Agen Perlinsos, Capaian Tembus 100 Persen
Home › Ekonomi & Bisnis

Dari Balik Jeruji ke Pasar Kreatif, Ikhtiar Ekonomi Lapas Sidoarjo Lewat Galeri GIATJA

Senin, 5 Oktober 2026 23:17 WIB

2 jam lalu1Redaksi LPN
Dari Balik Jeruji ke Pasar Kreatif, Ikhtiar Ekonomi Lapas Sidoarjo Lewat Galeri GIATJA

Sidoarjo – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Sidoarjo terus memacu produktivitas warga binaan dengan menggenjot program pembinaan kemandirian bernilai ekonomi. Melalui Unit Bimbingan Kerja (GIATJA), Lapas Sidoarjo kini resmi memperkenalkan Galeri Produk sebagai etalase komersial untuk memamerkan ragam produk karya warga binaan.

Langkah ini diambil untuk menjembatani hasil karya warga binaan langsung ke pasar masyarakat luas. Adapun komoditas yang ditampilkan cukup variatif, mulai dari sektor kuliner seperti sambal klothok, industri kreatif berupa kain batik dan kerajinan tas, hingga sektor agribisnis lewat produksi telur ayam kampung dari peternakan ayam Elba yang dikelola mandiri di dalam area Lapas.

Keberadaan Galeri Produk ini tidak sekadar menjadi ruang pameran statis, melainkan diproyeksikan sebagai pusat inkubasi bisnis mini. Melalui ekosistem ini, para warga binaan ditempa untuk memahami rantai produksi dan standar kualitas produk agar memiliki daya saing tinggi saat kembali ke masyarakat nanti.

Pada sektor pangan dan agribisnis, peternakan ayam Elba di Lapas Sidoarjo bahkan telah berkontribusi nyata dalam mendukung program ketahanan pangan internal dan lokal. Sementara pada sektor kriya, konsistensi produksi batik dan tas menjadi bukti bahwa pembinaan diarahkan pada industri kreatif yang memiliki serapan pasar yang jelas.

Kalapas Kelas IIA Sidoarjo, Disri Wulan Agus Tomo, menegaskan bahwa orientasi pembinaan di Lapas kini telah bergeser ke arah yang lebih produktif dan berorientasi hasil. Warga binaan tidak hanya menghabiskan masa pidana, tetapi juga dipersiapkan sebagai angkatan kerja baru yang siap berwirausaha.

“Melalui GIATJA, kami membangun ekosistem di mana warga binaan bisa belajar, berkarya, sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Target utamanya adalah intervensi keterampilan. Kami ingin memastikan mereka memiliki modal keahlian nyata yang bisa langsung dimanfaatkan untuk mencari nafkah secara halal setelah bebas nanti,” ujar Disri.

Ke depan, Lapas Kelas IIA Sidoarjo berkomitmen menjaga keberlanjutan roda produksi ini. Fokus peningkatan akan diarahkan pada standardisasi kualitas produk, diversifikasi varian, serta perluasan jejaring pemasaran agar produk karya warga binaan bisa bersaing sehat di pasar domestik. (hls)

Dari Balik Jeruji ke Pasar KreatifIkhtiar Ekonomi Lapas Sidoarjo Lewat Galeri GIATJA

Berita Terkait