Senin, 05 Okt 2026
HUT ke-81 TNI Jadi Momen Kekompakan Muspikacam Puger: Menuju Puger Aman dan KondusifDion Marcellino Lumban Gaol: Mahasiswa Untag Surabaya dan Atlet Wushu Berprestasi di Kancah InternasionalSoewanto.SH : Ekspansi Masif BPJS Ketenagakerjaan: Bidik 20 Profesi Strategis Lewat Strategi KomunitasPolri Perkenalkan Tagline Baru “Polisi Bersama Masyarakat”, Tegaskan Arah Pengabdian yang Berorientasi pada RakyatPolres Ngawi Percepat Pembentukan Agen Perlinsos, Capaian Tembus 100 PersenTekan Kriminalitas, Polres Malang Intensifkan Razia Miras‎Di Balik Kemegahan Parade Drumband Karya MUA Loka Alvien Oktava Curi Perhatian PublikPesan Aba Marsam dalam Transformasi AMP, Rangkul Semua Perantau Tanpa Melupakan Akar Tradisi
Home › Olahraga

Dion Marcellino Lumban Gaol: Mahasiswa Untag Surabaya dan Atlet Wushu Berprestasi di Kancah Internasional

Senin, 5 Oktober 2026 17:52 WIB

2 jam lalu33Risambas
Dion Marcellino Lumban Gaol: Mahasiswa Untag Surabaya dan Atlet Wushu Berprestasi di Kancah Internasional

Lpn.com // Surabaya _ Dion Marcellino Lumban Gaol bukan nama baru di arena Wushu. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya tersebut telah mencatatkan prestasi di berbagai kejuaraan, mulai dari tingkat nasional hingga panggung internasional.

Dion merupakan putra Rudy RL Gaol, mantan aktivis ’98 yang kini dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Berani Nusantara (G-BRAN).

Lahir dan besar di Kota Surabaya, Dion juga memiliki darah Batak dari sang ayah. Perkenalannya dengan Wushu pada awalnya tidak jauh berbeda dengan olahraga bela diri pada umumnya. Namun, setelah terjun lebih serius, pandangannya terhadap Wushu berubah.

Bagi Dion, Wushu bukan lagi sekadar olahraga bela diri, melainkan telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya sebagai atlet.

“Bagi ku, mulanya Wushu seperti olahraga beladiri seni pada umumnya, namun lambat laun terjun ke dalam dunia Wushu, Wushu ini menjadi seperti lebih dari sekadar olahraga seni pada umumnya,” ujar Dion.

Menurut Dion, Wushu memberikan pengalaman berharga dalam melatih kelenturan sekaligus ketahanan tubuh. Ketekunan menjalani latihan kemudian membawanya meraih berbagai penghargaan.

“Dalam Wushu saya belajar mengenai kelenturan tubuh, ketahanan tubuh. Jadi saya tekunin dengan giat berlatih sampai pada akhirnya bisa mendapatkan penghargaan yang luar biasa di dalam hidup saya,” tuturnya.

Dalam perjalanannya sebagai atlet, Dion tidak hanya mempelajari gerakan Wushu. Ia juga mendalami berbagai kategori yang menggunakan senjata tradisional.

Salah satunya Nan Dao, yakni kategori jurus yang menggunakan golok tradisional. Selain itu, ada Gun Shu yang menggunakan tongkat atau toya, serta Jian Shu yang menggunakan pedang tipis dan membutuhkan kelenturan tubuh dalam setiap gerakan.

Dion juga mengenal sejumlah senjata tradisional lainnya, seperti Nan Chaku dan Bu Dao.

Untuk mengembangkan kemampuan, Dion menjalani latihan di Sasana Wonoroseto. Logo sasana tersebut terpasang di bagian dada kiri seragam Wushu yang dikenakannya.

Di bawah binaan Wonoroseto terdapat sejumlah cabang bela diri, mulai dari Wushu Taolu (seni), Tai Chi, Muay Thai, Savate, Tarung Derajat hingga Wushu Sanda (tarung).

Sementara itu, logo Aliansi Kungfu Indonesia terpasang di bagian dada kanan seragamnya.

Kiprah Dion sebagai atlet juga membawanya tampil dalam Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) 2024 di Bogor.

Prestasi terbarunya diraih dalam Kejuaraan Wushu Citra Satria Cup tingkat nasional yang berlangsung pada 21–23 Agustus 2026. Dalam kejuaraan tersebut, Dion berhasil meraih Juara 1.

Prestasi itu menjadi tambahan catatan dalam perjalanan panjang Dion di dunia Wushu.

Jauh sebelum meraih prestasi di tingkat nasional, Dion telah merasakan atmosfer kompetisi internasional. Ia mewakili Indonesia dalam Bali International Kungfu Championship pada 17–22 Desember 2018 dan berhasil meraih Juara 2.

Kejuaraan tersebut diikuti peserta dari lebih dari 10 negara. Bagi Dion, pengalaman tersebut menjadi salah satu momen yang paling berkesan dalam perjalanan kariernya sebagai atlet.

“Yang paling berkesan adalah karena kejuaraan internasional karena diikuti lebih dari 10 negara yang ikut serta. Selain menjadi rival saat bertanding, mereka juga menjadi teman-teman baru bagi saya untuk saling sharing dan support,” ujarnya.

Dion resmi menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Untag Surabaya pada 2025 dan kini duduk di semester 3. Kesibukannya sebagai mahasiswa tidak membuatnya meninggalkan Wushu yang telah menjadi bagian dari kehidupannya.

Ia berusaha menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik dan latihan sebagai atlet.

Prestasinya juga mendapat apresiasi dari Untag Surabaya. Sebagai Kampus Merah Putih yang turut mendukung prestasi akademik maupun nonakademik mahasiswa, Untag memberikan pembebasan uang gedung atau DPP sebagai bentuk penghargaan atas prestasi yang diraih Dion.

Bagi Dion, apresiasi tersebut memiliki arti tersendiri. Menurutnya, dukungan kampus menjadi bentuk penghargaan terhadap perjalanan dan berbagai kejuaraan Wushu yang telah diikutinya.

Meski telah mengoleksi sejumlah prestasi, perjalanan Dion sebagai atlet tidak selalu berjalan mudah. Tantangan terberat justru kerap datang dari dirinya sendiri, terutama ketika harus melawan rasa malas saat menjalani latihan.

Dukungan kedua orang tua menjadi salah satu faktor yang membuatnya tetap konsisten berlatih dan mengikuti pertandingan.

Selain kesiapan fisik, mental juga menjadi aspek penting yang harus dipersiapkan sebelum turun ke arena. Dion pernah mengalami kondisi ketika penampilannya sudah maksimal, tetapi hasil penilaian juri belum sesuai dengan harapan.

Pengalaman tersebut sempat membuatnya sedih dan kecewa. Namun, ia memilih tidak menjadikan hasil tersebut sebagai alasan untuk berhenti. Sebaliknya, pengalaman itu dijadikannya bahan evaluasi untuk memperbaiki kemampuan.

Bagi Dion, kegagalan dalam pertandingan merupakan bagian dari proses untuk berkembang dan menjadi lebih baik.

“Dari kegagalan tersebut menjadi guru terbaik saya untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya,” tegas Dion.

Motivasi Menjadi Kunci

Di tengah persaingan yang semakin tinggi, Dion menilai motivasi menjadi salah satu kunci untuk menjaga konsistensi sebagai atlet.

Menurutnya, tujuan yang besar akan mendorong seseorang untuk terus bertahan, berkembang dan memperbaiki kemampuan di bidang yang diminatinya.

“Motivasi adalah kunci, karena jika kita memiliki motivasi yang besar serta tujuan yang besar maka kita pasti bertahan dan berkembang. Syukur-syukur kita menjadi atlet terbaik di bidang yang kita minati,” tutupnya.

Dukungan keluarga, apresiasi dari lingkungan kampus, serta pengalaman bertanding di berbagai level menjadi bagian penting dalam perjalanan Dion Marcellino Lumban Gaol.

Sebagai mahasiswa sekaligus atlet, Dion kini terus berlatih dan mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai kejuaraan berikutnya. Prestasi nasional hingga pengalaman di panggung internasional menjadi bekal baginya untuk terus berkembang dan mengejar capaian yang lebih tinggi di dunia Wushu.

(G-BRAN SBY)