Maut di Toko Al Inayah 3, Jejak Kalap Kekasih yang Dikhianati
Rabu, 7 Oktober 2026 02:09 WIB

GRESIK — Sebuah buku catatan bersampul usang kini berada di meja penyidik Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Gresik. Di dalamnya, tertoreh pesan wasiat yang ditulis dengan tangan gemetar oleh IR. Perempuan 22 tahun itu nyaris mengakhiri hidupnya sendiri, tepat setelah ia menghabisi nyawa sang kekasih, MF (23), anak seorang lurah yang juga juragan toko bangunan di Kecamatan Menganti, Gresik.
Niat bunuh diri itu urung. IR memilih menekan angka 110 pada ponselnya dan menyerahkan diri ke polisi setelah sebuah prahara asmara yang ia rancang dengan dingin berakhir dengan genangan darah.
Tragedi berdarah di Toko Bangunan Al Inayah 3, Desa Randupadangan ini, perlahan mulai menyingkap tabir gelap. Polisi memastikan, aksi jagal yang terjadi pada Sabtu dini hari, 3 Oktober 2026 tersebut, bukanlah letupan emosi sesaat. Ini adalah sebuah pembunuhan yang direncanakan dengan sangat matang.
"Perencanaan itu sudah dimulai sejak 28 September," ujar sumber di Polres Gresik. Pemicunya klasik namun fatal: cekcok hebat setelah korban memutuskan hubungan asmara mereka sepihak. Amarah IR kian membubung ketika ia menggeledah perangkat elektronik milik korban. Di sana, IR menemukan bukti digital berupa obrolan chat, foto, dan video yang mengonfirmasi kecurigaannya: ia telah diselingkuhi.
Gelap mata dan terbakar cemburu, IR mulai menyusun skenario maut. Pada hari Selasa sebelum eksekusi, ia melangkah ke pasar untuk membeli dua bilah pisau dan selembar handuk. Dua benda yang kelak menjadi instrumen pencabut nyawa MF.
Kesempatan itu datang akhir pekan lalu. IR menginap di toko bangunan milik korban. Menjelang pukul dua dini hari, saat jarum jam merayap di kesunyian Desa Randupadangan, IR bergerak mendekati MF yang tengah terlelap. Pisau dihunus.
Namun, maut tak menjemput dengan senyap. MF terbangun saat serangan pertama mendarat. Pemuda itu memberikan perlawanan sengit, mencoba mempertahankan hidupnya di dalam kamar yang sempit. Naas, IR yang sudah dirasuki amarah menyerang secara membabi buta. Hasil visum dokter forensik berbicara banyak tentang keganasan malam itu: ditemukan luka iris dalam di kepala, serta luka bacok yang menganga di leher, tangan, dan punggung korban.
Kini, koridor Satreskrim Polres Gresik dipenuhi hilir mudik saksi. Hingga Selasa, 6 Oktober 2026, sedikitnya enam orang telah diperiksa secara intensif. Polisi bergerak cepat mengamankan barang bukti krusial untuk menyusun mozaik perkara ini. Satu unit laptop dan tiga ponsel milik korban serta pelaku kini dikirim ke laboratorium digital forensik.
Dari rekam jejak digital di benda-benda elektronik itulah, polisi berharap bisa membaca utuh motif, keputusasaan, dan detil perencanaan di balik kepulan cemburu yang berakhir dengan jeruji besi. (hlli)



