Selasa, 06 Okt 2026
Sosialisasi Tertib Lalu Lintas, Satlantas Polres Pelabuhan Tanjung Perak Imbau Sopir Truk Manfaatkan Buffer AreaAwali Tugas, Kepala BRAN Temui Wamen ATR/BPN Perkuat Sinergi Reforma AgrariaKisah Pilu Remaja Probolinggo, Kabur dari Rumah demi Bongkar Aksi Bejat Ayah Kandung yang Mencabulinya Sejak Kelas 5 SDApes!!! Bobol Jendela Warkop Demi Elpiji, Dua Pemuda di Pasuruan Dipermak Warga, Motor Jadi ArangMenanti Kabar di Tanjung Perak, Trauma Keluarga Korban Virgo Transport 8 dan Balutan Psikologis UnairKurang Konsentrasi, Wing Box Picu Tabrakan Beruntun Tiga Truk di Duduksampeyan, Satu Sopir Patah KakiDari Balik Jeruji ke Pasar Kreatif, Ikhtiar Ekonomi Lapas Sidoarjo Lewat Galeri GIATJAMengendus 'Las Vegas' Kalicabean, Mengapa Judi Sabung Ayam di Sidoarjo Tak Kunjung Padam???
Home › Peristiwa

Menanti Kabar di Tanjung Perak, Trauma Keluarga Korban Virgo Transport 8 dan Balutan Psikologis Unair

Selasa, 6 Oktober 2026 05:40 WIB

1 jam lalu1Redaksi LPN
Menanti Kabar di Tanjung Perak, Trauma Keluarga Korban Virgo Transport 8 dan Balutan Psikologis Unair

SURABAYA — Suasana haru dan ketidakpastian pekat menyelimuti Pos Pelayanan Basarnas Tanjung Perak, Surabaya. Di posko ini, keluarga korban tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa sedang bertarung dengan waktu, cemas menanti kabar nasib orang-orang tercinta mereka.

Di tengah ketegangan masa pencarian dan rumitnya proses identifikasi, tim medis Universitas Airlangga (Unair) yang tergabung dalam Garda Ksatria Airlangga turun ke lapangan. Mereka memberikan pendampingan psikologis (dukungan kesehatan mental) langsung untuk menguatkan mental keluarga korban yang terguncang.

Dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Unair, dr. Winson Chuanardi, menjelaskan bahwa timnya menghindari pendekatan formal yang kaku demi menyentuh sisi humanis para keluarga korban. "Tim lebih banyak mengajak keluarga berbicara, mendengarkan cerita mereka, serta memberi ruang selebar-lebarnya untuk mengungkapkan perasaan," ujar Winson pada Senin, 5 Oktober 2026.

Pantauan di lokasi menunjukkan respons emosional yang beragam dari para keluarga yang setia bertahan di pelabuhan. Sebagian besar tak kuasa membendung air mata, sementara sebagian lainnya memilih membisu—terpaku akibat syok berat dan belum mampu mengekspresikan duka mendalam.

Menurut Winson, reaksi-reaksi tersebut sangat bisa dipahami. "Kondisi seperti itu merupakan respons yang wajar ketika seseorang menghadapi peristiwa traumatis, terlebih ketika nasib anggota keluarganya belum diketahui secara pasti," tuturnya.

Proses penantian ini menjadi ujian mental yang teramat berat. Para keluarga dipaksa berpacu di antara harapan tipis dan kesiapan menghadapi kenyataan terburuk. Selain harus melewati proses identifikasi lewat pengambilan sampel DNA, mereka dituntut tegar menerima apa pun hasil penyisiran tim SAR gabungan.

Dampak psikologis dari tragedi seperti ini pun tidak serta-merta hilang begitu operasi pencarian ditutup. "Kesedihan, kecemasan, rasa kaget, hingga penolakan terhadap kenyataan bisa tetap membayangi meski keluarga sudah mendapat kepastian," kata Winson menambahkan.

Melalui pendampingan mental ini, Garda Ksatria Airlangga berharap dapat mengurai benang kusut trauma yang dirasakan keluarga di posko. Dukungan lingkungan sekitar serta ruang aman untuk berduka menjadi kunci utama pemulihan emosional mereka.

"Pendampingan psikologis seperti ini menjadi sangat krusial, terutama ketika tekanan emosional mulai mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari dan korban kesulitan bangkit dalam waktu yang lama," pungkas Winson. (slmet)

Menanti Kabar di Tanjung PerakTrauma Keluarga Korban Virgo Transport 8 dan Balutan Psikologis Unair

Berita Terkait