Menyambut Rahmat dari Langit, KH. Jufri Mengajak Umat Memahami Sifat Hujan dan Keberkahannya
Selasa, 27 Oktober 2026 12:18 WIB

SURABAYA – Hujan merupakan salah satu fenomena alam paling krusial yang menjaga keberlangsungan ekosistem di bumi. Lebih dari sekadar proses presipitasi dalam siklus hidrologi, turunnya hujan membawa dampak besar bagi kehidupan manusia, kelestarian lingkungan, dan keseimbangan alam.
Dalam perspektif Islam, setiap tetesan air yang turun dari langit adalah bentuk kasih sayang Sang Pencipta yang harus disikapi dengan rasa syukur dan kesadaran ekologis. Hal ini ditegaskan oleh KH. Jufri, ulama kharismatik yang juga merupakan cicit dari ulama besar Nusantara, Syaikhona Kholil Bangkalan. Usut punyak usut beliau (KH. Jufri) punyak peran peting dan merupakan Dewan Pembina di Ormas Aliansi Masyarakat Perantau (AMP) yg di Ketuai H. Holis.
KH. Jufri mengingatkan bahwa hujan adalah momentum emas bagi umat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus merawat bumi.
Sifat Hujan : Rahmat, Rezeki, dan Penyeimbang Alam
Secara ilmiah dan spiritual, hujan memiliki berbagai sifat utama yang mendatangkan kebaikan bagi bumi :
• Sumber Kehidupan : Air hujan menghidupkan tanah yang mati, membantu proses fotosintesis vegetasi, dan mengisi kembali cadangan air tanah yang dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup.
• Pembersih Polusi : Turunnya hujan secara alami membersihkan partikel debu, polutan, dan asap di atmosfer, sehingga meningkatkan kualitas udara yang kita hirup.
• Penyeimbang Suhu : Hujan berfungsi sebagai pendingin alami yang menurunkan suhu permukaan bumi setelah periode panas atau kemarau.
"Syaikhona Kholil dahulu selalu mengajarkan kita untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui alam. Hujan ini adalah bukti nyata bahwa Allah tidak pernah berhenti memberi rezeki," ujar KH. Jufri.
Meskipun hujan adalah rahmat, KH. Jufri juga mengingatkan bahwa intensitas yang terlalu tinggi terkadang dapat memicu tantangan alam seperti genangan atau banjir akibat kelalaian manusia. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan, membersihkan saluran air, dan menjaga kesiapsiagaan sebagai wujud nyata dari syukur tersebut.
Doa-Doa Saat Turun Hujan
Dalam perspektif spiritual, KH. Jufri menekankan bahwa waktu turunnya hujan adalah salah satu momen paling mustajab untuk memanjatkan doa. Berikut adalah beberapa doa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk diamalkan oleh umat Muslim :
1. Doa Saat Hujan Mulai Turun
Dianjurkan membaca doa ini agar hujan yang turun membawa kebaikan dan manfaat :
• Lafadz : اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
• Transliterasi : Allahumma shayyiban nafi’an.
• Artinya : "Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat." (HR. Bukhari)
2. Doa Ketika Hujan Lebat (Memohon Perlindungan dari Bencana)
Jika hujan turun terlalu lebat dan dikhawatirkan memicu banjir atau kerusakan, Rasulullah SAW mengajarkan doa berikut :
• Lafadz: اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ، وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
• Transliterasi : Allahumma hawalaina wala ‘alaina. Allahumma ‘alal akami wadh-dhirobi, wa buthunil audiyati, wa manabitish-syajari.
• Artinya : "Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, berilah hujan ke daratan tinggi, perbukitan, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan." (HR. Bukhari)
3. Doa Setelah Hujan Reda
Sebagai wujud syukur atas nikmat air yang diberikan, bacalah doa ini setelah hujan berhenti :
• Lafadz: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ
• Transliterasi : Mutirna bi fadhlillahi wa rahmatihi.
• Artinya : "Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah." (HR. Bukhari)
Melalui pemahaman tentang sifat hujan dan pengamalan doa-doa tersebut, KH. Jufri berharap masyarakat dapat memandang setiap tetes hujan dengan rasa syukur yang mendalam serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, agar keberkahan hujan dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh alam, Selasa 27 Oktober 2026. (red)



