Pesan Kasatresnarkoba Tanjung Perak di Hari Santri : Ajak Santri Jadi Benteng Karakter Bangsa dan Cintai NKRI
Jumat, 23 Oktober 2026 01:32 WIB

SURABAYA — Peringatan Hari Santri Nasional kembali menjadi panggung refleksi. Di tengah dinamika zaman yang kian cepat, Kasatresnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, AKP Adik Agus Putrawan, menitipkan pesan penting: estafet perjuangan santri harus relevan dengan tantangan hari ini.
Mengusung tema “Santri Mengabdi, Negeri Berarti”, Adik menilai nilai-nilai kepesantrenan—kedisiplinan, kemandirian, hingga integritas—merupakan vaksin sosial yang mujarab bagi generasi muda.
"Selamat Hari Santri Nasional. Santri mengabdi, negeri berarti. Semoga semangat santri terus menjadi inspirasi bagi Indonesia," ujar Adik dalam keterangannya di Surabaya.
Bagi Adik, keterlibatan santri dalam sejarah bangsa bukan sekadar catatan usang di buku babad. Dari meja-meja kayu madrasah hingga barisan laskar di medan revolusi, kalangan pesantren terbukti mampu meleburkan nilai agama dengan nasionalisme. Hari ini, tantangan itu bermetamorfosis: bukan lagi menghadapi peluru, melainkan merawat moral bangsa di tengah gempuran krisis integritas dan narkotika.
Pesantren, menurut pandangan kepolisian, adalah benteng kultural yang tangguh. Di sanalah anak-anak muda tidak cuma dijejali hafalan kitab, melainkan dilatih mengasah kepekaan sosial dan kepatuhan pada aturan. Ketika nilai itu dibawa keluar gerbang pesantren, ia menjelma menjadi daya tahan sosial yang menjaga ketertiban umum.
"Nilai disiplin, kejujuran, dan gotong royong di pesantren adalah modal dasar. Ketika itu hidup di tengah masyarakat, penegakan hukum dan keamanan bukan lagi beban aparat semata, tapi kesadaran kolektif," ucap Adik.
Di tengah mozaik keberagaman Indonesia, momentum Hari Santri juga dibaca sebagai alarm untuk merawat rajutan persatuan. Toleransi dan kecintaan pada tanah air (hubbul wathan minal iman) dipandang sebagai jangkar agar kapal besar bernama Indonesia tidak oleng diempas politik identitas maupun gesekan sosial.
Pengabdian santri, tulis Adik dalam pesan reflektifnya, tak harus selalu di atas mimbar. Ia bisa bermula dari tindakan paling membumi: menjaga lingkungan sekitar tetap bersih dari pengaruh buruk, merangkul sesama, dan menolak segala bentuk dekadensi moral.
Sebab pada akhirnya, Hari Santri bukan sekadar seremoni kalender yang lewat begitu saja, melainkan tagihan sejarah kepada generasi muda untuk terus membuktikan: bahwa santri tidak pernah absen merancang masa depan Indonesia. (slmet)



